Feed on
Posts
Comments

Tulisan ini pernah ditampilkan di Detikcom, 28 Januari 2013

Kita meninggalkan tahun 2012 dengan menyaksikan transisi kepemimpinan di pemain-pemain utama kawasan Asia Pasifik: Jepang, China, Korea Selatan, dan ASEAN. Beberapa isu yang dapat berdampak pada politik regional di Asia Pasifik menyertai proses transisi ini.

Transisi di China berjalan cukup lancar meskipun terdapat sedikit hiruk pikuk. Pada tanggal 15 November 2012, Xi Jinping secara resmi didaulat menggantikan Hu Jintao sebagai pemimpin Partai Komunis China dalam sebuah transisi yang berlangsung sepuluh tahun sekali.

Continue Reading »

Share and Enjoy:
  • Facebook
  • Google
  • TwitThis
  • E-mail this story to a friend!
  • LinkedIn

(Tulisan ini dibuat tahun 2007 dan ditampilkan di laman Desantara tanggal 16 Mei 2013)

Pentas kesenian dan pengajian berlangsung di satu lokasi yang berimpitan memang tampak janggal. Terlebih bagi mereka yang selalu menganggap kesenian dan pengajian adalah dunia yang tak terjembatani. Namun di Tegalrejo, pengajian dan pentas kesenian di satu lokasi yang berdekatan sudah berlangsung puluhan tahun.

Continue Reading »

Share and Enjoy:
  • Facebook
  • Google
  • TwitThis
  • E-mail this story to a friend!
  • LinkedIn

On writing a speech

I am fortunate enough to have the opportunity of joining the speech writing course program in Georgetown University. I couldn’t even imagine before that in America, speech writing is a profession, a career. Some people earn their living from this kind of stuff. Courses are offered in campuses for those who are interested in writing speeches.

Until three months ago, I thought writing a speech is only a matter of writing, just like any other kinds of writing. If you can write well, you can also write a good speech. Most of us would have thought the same, I suppose. Or at least your boss does. And you too.

Continue Reading »

Share and Enjoy:
  • Facebook
  • Google
  • TwitThis
  • E-mail this story to a friend!
  • LinkedIn

For some of us who live our whole life in Indonesia, that question might seem ridiculous. But that’s not for an Indonesian young woman who spent her entire life living in another country with no single experience of staying in Indonesia for any second – except when her mother gave birth to her more than twenty years ago. The best thing she could associate Indonesia with is her parents talking in a certain language that she could barely understand. The rest is her imagination and internet-based information.

Saya agak tersentak ketika gadis tersebut mengajukan pertanyaan yang tidak pernah saya bayangkan akan saya tanyakan seumur hidup itu. Serentak otak saya berputar mencari jawabannya. Dan jawaban yang saya jumpai membuat saya nyengir dengan nyinyir. Bagi saya yang sejak orok hingga cukup umur untuk bikin orok hidup di Indonesia ini, dengan hanya beberapa kesempatan singkat tinggal di luar negeri, pertanyaan itu terasa sangata jauh – bukan karena tidak relevan, tapi karena jawabannya sudah jelas sehingga aneh jika ditanyakan.

Continue Reading »

Share and Enjoy:
  • Facebook
  • Google
  • TwitThis
  • E-mail this story to a friend!
  • LinkedIn

Malam Kamis kemarin, tanggal 4 Juli, bersama beberapa teman saya menyaksikan perhelatan kembang api di Washington Monument yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari White House, jantung kekuasaan dunia itu. Pesta kembang api itu merupakan rangkaian dari peringatan Hari Kemerdekaan Amerika Serikat yang biasa dikenal dengan sebutan Fourth of July.

Luncuran pertama kembang api baru dimulai pukul 21.15, tapi orang-orang sudah menyemut di lokasi dari siang. Kami boleh dibilang agak telat karena baru datang sekitar pukul 18.30. Toh demikian jam segitu masih tergolong siang menjelang sore karena di musim panas matahari baru terbenam pukul 20.30. Sengatan udara musim panas menemani orang-orang yang berkerumun di sekitar tugu yang menyerupai “lingga” Monas itu. Sebagian dari mereka tiduran sambil berjemur, sebagian bermain-main dengan keluarga, berbincang, main kartu, atau hanya duduk-duduk sambil berdiam.

Continue Reading »

Share and Enjoy:
  • Facebook
  • Google
  • TwitThis
  • E-mail this story to a friend!
  • LinkedIn

Panas dc bulan juli

Panas dc di bulan juli begitu menggerahkan

Memancing umpatan mengalir dari mulut seorang pelancong

Anjrit

Kampret

Anjing

Panasnya bikin pening

Umpatan itu seolah bisa mendinginkan

Tapi..

Apa lagi yang bisa dilakukan?

Ketika keluar rumah terasa masuk ke dalam oven

Dan semilir angin takluk kepada sengatan udara

Malam hanyalah siang yang gelap

Karena dingin yang dia janjikan tak kunjung datang

Tiba-tiba secara ajaib jakarta terasa sejuk

Bandung terlebih lagi, tak tersaingi

Kemacetan

Kebisingan

Keriuhan

Semua terbayar oleh kesejukan yang memanjakan dengan sentuhan

Sementara aku harus tertinggal di sini, berkeringat

Dc, awal juli 2012

Share and Enjoy:
  • Facebook
  • Google
  • TwitThis
  • E-mail this story to a friend!
  • LinkedIn

852076414730ab93ff1e39fa1df90859_twitter-vs-facebook

Saya memiliki asumsi sederhana seperti ini: di Facebook, orang cenderung menutup diri sendiri namun memiliki keingintahuan yang besar terhadap orang lain. Sementara di Twitter yang terjadi adalah sebaliknya: orang cenderung membuka diri namun abai terhadap orang lain.

Kecenderungan yang berbeda itu barangkali dipengaruhi oleh karakter keduanya yang memang tidak sama. Di Facebook, arus status update tidak sekilat di Twitter. Sebagai ilustrasi, 700 lebih teman di Facebook menghasilkan kurang lebih dua puluh status update tiap jamnya (ini perkiraan saya berdasarkan status update teman-teman Facebook saya).

Continue Reading »

Share and Enjoy:
  • Facebook
  • Google
  • TwitThis
  • E-mail this story to a friend!
  • LinkedIn

Oleh: Shohib Masykur

Tulisan ini juga diunggah di blog Sekdilu 35, Vivanews, dan Detikcom.


Diskusi bersama Riri Riza

Sudah lama kita dibuat terpukau dan dimanjakan oleh film-film Hollywood. Sebagai mercusuar perfilman dunia, Hollywood telah melahirkan bintang-bintang yang menjadi idola jutaan pemirsa di muka bumi. Namun barangkali tidak banyak yang tahu bahwa di era 1930-an, seorang artis Indonesia asal Jawa telah menancapkan kaki di lumbung perfilman Amerika tersebut.

Dialah Dewi Dja, artis Indonesia pertama yang go international lewat peran yang dia mainkan di film-film “bercap” Hollywood. Di zamannya, Dewi Dja merupakan mega bintang yang digandrungi oleh kalangan penikmat film tanah air.

“Dewi Dja inilah artis Indonesia pertama yang go to Hollywood,” demikian tutur sutradara ternama Riri Riza dalam sebuah diskusi kecil di Kantor Kemlu, Pejambon, Jakarta, Kamis (16/2/2012) malam.

Continue Reading »

Share and Enjoy:
  • Facebook
  • Google
  • TwitThis
  • E-mail this story to a friend!
  • LinkedIn

Pemimpi(n)

Dulu, sewaktu masih kanak, kepemimpinan sangat sederhana maknanya. Kualifikasi yang dibutuhkan hanya satu: piawai dalam permainan. Barangsiapa jago bermain, maka dialah pemimpin. Dia akan diperebutkan di antara teman-temannya untuk menjadi rekan dalam permainan. Pendapatnya cenderung didengar, dan ide-idenya cenderung diterima sebagai konsensus bersama.

Tapi sekarang, kepemimpinan memiliki makna sangat dalam. Pemimpin tak cukup orang pintar. Pemimpin tak hanya cekatan. Dia juga harus berjiwa besar. Dia juga harus berani. Dia juga harus pandai mengamati situtasi dan menghadirkan solusi.

Dia harus menjadi ujung tombak dalam mendobrak kemandegan. Dia harus tegas, saat mengucapkan “saya bertanggung jawab untuk ini.” Dia harus lantang, saat berujar “koreksi saya, jika tidak benar.”

Pemimpin, sejatinya, adalah orang yang kesepian. Di kanan kirinya tiada kawan, karena dia melangkah paling depan.

Share and Enjoy:
  • Facebook
  • Google
  • TwitThis
  • E-mail this story to a friend!
  • LinkedIn

Sebab vs Akibat

Sudah cukup lama saya dibuat kebingungan dengan dua kata ini: sebab dan akibat. Pertanyaan yang selalu muncul di benak saya adalah: apa beda kata menyebabkan dan mengakibatkan?

Jika dirunut pada kata dasarnya, jelas dua kata itu jauh sekali bedanya, bahkan berlawanan. Sebab, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), diartikan sebagai hal yang menjadikan timbulnya sesuatu. Sedangkan akibat dimaknai sebagai sesuatu yang merupakan akhir atau hasil suatu peristiwa (perbuatan, keputusan).

Dari definisi di atas jelas terlihat bahwa dua kata tersebut memiliki makna berlawanan. Yang satu menjadikan timbulnya sesuatu, sementara yang lain hasil suatu peristiwa.

Continue Reading »

Share and Enjoy:
  • Facebook
  • Google
  • TwitThis
  • E-mail this story to a friend!
  • LinkedIn

Older Posts »