Menikmati kembang api bersama Lincoln
7 July 2012 by penguin
Malam Kamis kemarin, tanggal 4 Juli, bersama beberapa teman saya menyaksikan perhelatan kembang api di Washington Monument yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari White House, jantung kekuasaan dunia itu. Pesta kembang api itu merupakan rangkaian dari peringatan Hari Kemerdekaan Amerika Serikat yang biasa dikenal dengan sebutan Fourth of July.
Luncuran pertama kembang api baru dimulai pukul 21.15, tapi orang-orang sudah menyemut di lokasi dari siang. Kami boleh dibilang agak telat karena baru datang sekitar pukul 18.30. Toh demikian jam segitu masih tergolong siang menjelang sore karena di musim panas matahari baru terbenam pukul 20.30. Sengatan udara musim panas menemani orang-orang yang berkerumun di sekitar tugu yang menyerupai “lingga” Monas itu. Sebagian dari mereka tiduran sambil berjemur, sebagian bermain-main dengan keluarga, berbincang, main kartu, atau hanya duduk-duduk sambil berdiam.
Saat akhirnya kembang api mulai disulut pukul 21.15, gema tepuk tangan ribuan orang membahana memecah kesunyian senja yang baru saja meredup. Lengkingan suara kembang api saat merayap naik serupa meteor bersahutan dengan suara tepuk tangan dan teriakan orang-orang. Lalu letusan demi letusan terdengar. Langit di atas Reflecting Pool di depan Lincoln Memorial Park mendadak terang benderang oleh kilatan warna-warni kembang api.
Takjub saya dibuatnya. Meski sudah sering saya melihat kembang api, tapi kali ini sangat berbeda. Jauh lebih indah. Jauh lebih memesona. Percik bunga api warna-warni yang dihasilkan lebih terang dengan jangkauan lebih lebar. Nyalanya juga lebih tahan lama dengan bentuk yang variatif. Ada kalanya percikan warna warni itu berformasi sedemikian rupa membentuk kubus, smiley, atau kurva-kurva lain yang tidak jelas bagi saya apa artinya. Terkadang percikan itu terjadi begitu saja di angkasa tanpa terlihat adanya luncuran dari bawah, serupa big bang yang konon menjadi muasal terciptanya semesta.
Selama 20 menit mata kami dimanjakan dengan pijar-pijar di langit yang menyisakan gumpalan asap serupa awan. Selama itu pula tepuk tangan berulang kali membahana. Alam raya seolah menjadi satu dengan manusia, ingin turut mengecap kebebasan yang dijanjikan kemerdekaan. Teman di sebelah saya berkali-kali berdecak penuh kekaguman. Dengan antusias dia berujar, “Gila bagus banget. Pantaslah kalau jadi negera hegemon.” Saya tertawa.
Tapi barangkali celetukan teman saya itu ada rasanya juga buat dikunyah. Ribuan orang yang berkerumun di tempat itu, para warga negara Amerika, mungkin merasakan gelora yang membahana dalam dada mereka. Saya bayangkan ingatan mereka melayang pada suatu masa lebih dari 200 tahun yang lalu, ketika perang dalam rangka perjuangan meneguhkan diri sebagai negara mandiri terjadi dan meminta korban tak sedikit. Sekarang lihatlah negara itu, telah bertransformasi dari sebuah koloni menjadi adidaya.
Namun kemerdekaan yang dicetuskan 4 Juli itu bukan tanpa cacat. Pada saat dideklarasikan tahun 1776, kemerdekaan itu sebenarnya bukan milik semua orang karena masih kentalnya tradisi perbudakan. Bagi para budak kulit hitam itu, kemerdekaan Amerika tidak bermakna apa-apa. Maka tak heran jika hingga 76 tahun kemudian, matra merdu “all men are created equal” yang dipercayai sebagai kebenaran tak terbantahkan dalam Deklarasi Kemerdekaan masih saja dipertanyakan. “What to the American slave is your Fourth of July?” demikian teriakan pedih seorang aktivis anti-perbudakan yang juga mantan budak, Frederick Douglass, dalam pidatonya di tahun 1852.
Baru kurang lebih satu dekade kemudian angin segar mulai bertiup bagi para budak ketika seorang Abraham Lincoln menjadi presiden. Berkat perjuangannya lah perbudakan dihapuskan dari Amerika, dan para budak kulit hitam dibebaskan sebagai manusia yang diciptakan setara. Berkat perjuangannya pula lah kemerdekaan yang dicapai pada abad sebelumnya itu bisa dipertahankan dari koyakan-koyakan Perang Sipil yang hampir meluluh-lantakkan semuanya.
Malam itu, saat saya melihat sekeliling, tidak sedikit orang kulit hitam yang turut menyemarakkan kembang api dengan tepuk tangan. Mereka berteriak dan bersorak, barangkali senang karena setelah sebelumnya kemerdekaan itu bukan milik mereka, pada akhirnya mereka turut mengecapnya.
Jika ada orang yang paling berjasa untuk itu semua, Lincoln lah orangnya. Dan dia ada di sana, duduk termenung sendirian di balik deretan tiang putih yang berjejer. Dari tempat kami berdiri, Lincoln Memorial kelihatan samar-samar. Saya yakin dari tempat duduknya Lincoln bisa menyaksikan bunga api yang berpijar-pijar di langit itu, bunga api yang menandai kemerdekaan warga negara yang pernah dipimpinnya.
Untuk sebagian orang, berkat dirinyalah kemerdekaan itu bisa dirasakan, dan untuk semua orang Amerika, berkat dirinyalah kemerdekaan itu bisa dipertahankan. Maka, karena Lincoln lah kembang api itu sampai kini masih tetap menyala. Sekilas, saya lihat Lincoln ikut bertepuk tangan.

–!@zhanping Save old mayonnaise coach outlet and other large glass jars to use as containers for bath salts.
Do you already know about the Chanel Handbags? Have you been coach outlet acquainted with probably Chanel Bags the most beautiful and revolutionary Coach Factory Outlet? If not, then allow us inform you louis vuitton outlet dears they are undoubtedly coach outlet store among probably the most prestigious sorts of Chanel Purses purses in the around the earth Michael Kors Purses market today. When we talk about the women’s beauty, Chanel 2012 would stand among probably the most effective coach outlet store online purses indisputably. They are beautifulCoach Factory Outlet Online, ground-breakingMichael Kors Bags, lovingcoach handbags , and caring Louis Vuitton Outlet Online purses at all.
–!@linlei Coach Outlet Online Just continue to write such a position. I will be your faithful reader. Thank you again.
Check this link “qualityessay.com” in order to make a purchase of professional essays and receive best writing service.
caili0921Okay, so golf association rules state that you can have no more than fourteen clubs in your bag, one of which has to be a putter.